LAMPUNGKHAM.COM-Jauh dari kata merdeka Warga Way Haru Kecamatan Bangkunat Bertaruh Nyawa menuju Ibu Kota Kecamatan.
Kata merdeka mungkin barlaku hanya untuk masyarakat yang sudah merasakan pembangunan yangv adil dan merata.
Menjelang hari kemerdekaan ke 79, masih ada daerah yang belum tersentuh pembangunan sama sekali, jangankan fasiltas gedung mewah, infrastruktur jalan saja masih belum tersentuh.
Seperti yang dirasakan warga Pekon Siring Gading, Kecamatan Bangkunat, Pesisir Barat, belum merasakan kemerdekaan seutuhnya seolah hanya sebuah kata kosong.
Hal itu dibuktikan warga setempat masih harus menghadapi perjuangan berat setiap hari, bertaruh nyawa demi sebuah perjalanan yang seharusnya ditempuh 30 menit sampai di pusat kota kecamatan belum lagi jalan lingkar pekon itu sendiri sudah rusak berat.
Kondisi jalan menuju Pekon Siring Gading, salah satu dari empat pekon di wilayah Enclave Way Haru, bagaikan sebuah neraka duniawi.
Jalan yang sudah ratusan tahun lamanya rusak parah, membentang dalam keadaan berlumpur dan licin, memaksa warga untuk menempuh perjalanan yang penuh risiko.
Jalanan ini tak hanya menyebabkan kemacetan, tetapi juga berpotensi menjadi kuburan bagi mereka yang nekat melintasinya.
Warga Pekon Siring Gading khususnya penduduk pekon Way Haru umumnya Bertaruh Nyawa
Untuk menuju pusat Kecamatan Bangkunat, warga harus melalui medan berat yang kadang kala bisa membuat mereka terjebak berhari-hari.
Ongkos ojek pun melonjak tajam—Rp. 2.500 per kilogram barang saat cuaca cerah, namun bisa mencapai Rp. 5.000 per kilogram ketika cuaca buruk.
Tidak hanya itu, jalur alternatif melewati bibir pantai yang sering terjang ombak juga menjadi momok menakutkan. Banyak kendaraan dan nyawa yang hilang akibat tergerus ombak ganas, hal ini dikeluhkan salah satu
Warga Pekon Siring Gading Bertaruh Nyawa tiap mau ke kecamatan, ungkap Pak Anas.
Ketidakberdayaan ini juga dirasakan oleh Roham Alfaqier, Kepala Desa Siring Gading.
Ia menjelaskan bahwa pembangunan jalan terhambat oleh regulasi yang belum memadai. “Kondisi jalan lintas Way Haru ketika musim hujan memang luar biasa, becek dan sangat berlumpur.
Selain itu, seluruh ruas jalan Wayheni-Wayharu masuk dalam kawasan Taman Nasional, sehingga pembangunan infrastruktur di sana memerlukan izin dari Kementerian Kehutanan,” jelasnya.
Warga Pekon Siring Gading khususnya seluruh pekon Way Haru umumnya Bertaruh Nyawa berjuang
Dengan tantangan besar dalam memperoleh izin dari Kementerian Kehutanan ” kami berharap khususnya waraga Way Haru berharap kerjasama antara pihak kabupaten dan kementerian, perlu di tingkatkan lagi warga siap mendukung, tegas peratin Roham,
Menurutnya, pembangunan jalan tampaknya masih menjadi impian yang jauh dari jangkauan. Roham hanya bisa berharap agar pemerintah pusat segera menerbitkan perjanjian kerjasama untuk mempermudah akses menuju wilayah Enclave tersebut.
“Semoga pemerintah pusat segera mendengar dan memahami kondisi kami di sini.
Kami hanya ingin akses yang layak agar kami bisa mengeluarkan hasil panen dan menjalani kehidupan dengan lebih baik dan bisa merasakan kemerdekaan sesungguhnya, pungkas Peratin.***






