FISIP Gelar 3 Agenda Akademik Internasional Satukan Akademisi 11 Negara untuk Pembangunan Berkelanjutan

82 views

LAMPUNGKHAM.COM-Universitas Lampung (Unila) menyelenggarakan pembukaan The 6th International Indonesia Conference on Interdisciplinary Studies (IICIS) 2026, Summer School 2026, dan Rapat Kerja Nasional Development Studies Association (DSA) Indonesia yang diikuti lebih dari 160 peserta dari 11 negara.

Kegiatan tersebut berlangsung di Gedung A Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Unila, Rabu, 23 September 2026, serta diikuti secara daring melalui Zoom.

Kegiatan ini dihadiri oleh Prof. Dr. Lusmeilia Afriani, D.E.A., IPM., ASEAN Eng., Rektor Unila, Nebojša Koharović, Duta Besar Kroasia untuk Indonesia, para plenary speaker dari berbagai negara, Prof. Dr. Anna Gustina Z., S.Sos., M.Si., Dekan FISIP Unila, beserta seluruh jajaran pimpinan FISIP Unila, para peserta IICIS 2026, Summer School 2026, Rapat Kerja Nasional DSA Indonesia, serta seluruh hadirin.

IICIS 2026 mengangkat tema “Advancing Blue-Green Development: Interdisciplinary Responses to Global Challenges”.

Tema tersebut menjadi respons terhadap berbagai tantangan global yang tidak dapat dijawab oleh satu disiplin ilmu saja, seperti perubahan iklim, ketahanan pangan, degradasi ekosistem pesisir, ketimpangan ekonomi, hingga transformasi digital.

Rektor Unila dalam sambutannya menyampaikan bahwa diperlukan pendekatan interdisipliner yang menghubungkan ilmu sosial, politik, ekonomi, hukum, komunikasi, lingkungan, dan teknologi dalam menghadapi berbagai tantangan global.

“Tema ini bukan sekadar pilihan intelektual, melainkan respons terhadap kenyataan bahwa tantangan global, perubahan iklim, ketahanan pangan, degradasi ekosistem pesisir, ketimpangan ekonomi, hingga transformasi digital tidak dapat dijawab oleh satu disiplin ilmu saja.

Kita membutuhkan pendekatan interdisipliner yang menghubungkan ilmu sosial, politik, ekonomi, hukum, komunikasi, lingkungan, dan teknologi,” ujarnya.

IICIS 2026 merupakan forum akademik tahunan yang telah memasuki penyelenggaraan keenam. Sejak awal, forum ini dirancang sebagai ruang bertemunya gagasan, riset, dan praktik terbaik dari berbagai bidang ilmu, antara lain ilmu pemerintahan, sosiologi, komunikasi, hubungan internasional, administrasi bisnis, administrasi publik, studi pembangunan, hukum, dan bidang-bidang lain yang relevan.

Rektor Unila menjelaskan, blue-green development merupakan paradigma pembangunan yang mengintegrasikan pemanfaatan sumber daya laut dan pesisir secara berkelanjutan dengan prinsip-prinsip pembangunan hijau yang menekankan perlindungan ekosistem, efisiensi sumber daya, ekonomi sirkular, serta keadilan sosial.

“Blue-green development mengingatkan kita bahwa pembangunan tidak boleh memisahkan daratan dan lautan, pertumbuhan dan keberlanjutan, inovasi dan keadilan sosial.

Dia menuntut kita merancang kebijakan, praktik bisnis, tata kelola, dan perilaku kolektif yang mampu menjaga ekosistem sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat, terutama komunitas pesisir dan kelompok rentan,” tuturnya.

Dalam kesempatan yang sama, Duta Besar Kroasia untuk Indonesia, Nebojša Koharović, turut memberikan sambutan.

Ia mengenang bahwa Lampung merupakan provinsi pertama yang dikunjunginya sejak resmi menjabat sebagai Duta Besar Kroasia untuk Indonesia tujuh tahun lalu, saat kerja sama antara Kroasia dan Unila baru saja dirintis.

“Tujuh tahun lalu kami berada di ruangan yang berbeda, di gedung dan fakultas yang lain, dengan sekitar sepuluh orang dari Kroasia serta beberapa orang dari Universitas Lampung dan universitas lain di Indonesia.

Saat itu kami memulai sesuatu yang tidak ada seorang pun tahu ke mana arahnya,” ujarnya.

Beliau menambahkan, bahkan pihak yang paling optimistis sekalipun saat itu tidak akan menyangka bahwa kerja sama tersebut dapat berkembang menjadi kegiatan sebesar summer school dan konferensi internasional seperti yang berlangsung saat ini.

Koharović juga menyampaikan apresiasinya kepada sosok yang dinilainya menjadi penggerak utama di balik keberlanjutan kerja sama ini melalui visi dan dedikasi pribadinya.

Menyinggung situasi hubungan internasional saat ini, ia menilai bahwa kegiatan seperti konferensi dan summer school menjadi langkah penting di tengah kompleksnya persoalan global.

“Hubungan internasional saat ini sedang bergerak ke arah yang bahkan kita sendiri tidak tahu lagi bagaimana cara memperbaikinya.

Karena itu, pertemuan semacam ini, baik disebut konferensi maupun summer school merupakan langkah yang tepat, sebuah upaya kemanusiaan yang baik untuk membawa keadaan yang mulai kacau kembali ke arah yang benar,” ujarnya.

Beliau menegaskan bahwa manfaat dari kegiatan ini tidak hanya dirasakan oleh kalangan akademisi, tetapi juga oleh mahasiswa dan generasi muda, sekaligus menjadi fondasi bagi hubungan antarnegara dan antarwilayah yang terlibat di dalamnya.

Di akhir sambutannya, Koharović menyampaikan salam dan harapan baik atas nama rombongan 15 profesor asal Kroasia yang hadir dalam kegiatan tersebut.

Ia berharap kunjungan ini menjadi kesempatan besar untuk kembali hadir setelah tujuh tahun, sekaligus menyampaikan apresiasi kepada seluruh staf, mahasiswa, dan Universitas Lampung atas upaya yang telah didedikasikan.***