Inflasi Masih Berlanjut pada Mei 2022, Meski Melambat Seiring Turunnya Harga Minyak Goreng

722 views

BANDARLAMPUNG, LK —  Indeks Harga Konsumen (IHK) Provinsi Lampung pada bulan Mei 2022 mengalami inflasi yaitu sebesar 0,95% (mtm). Pencapaian tersebut lebih tinggi dibandingkan capaian Nasional yang mengalami inflasi sebesar 0,40% (mtm), namun lebih rendah dibandingkan realisasi inflasi Sumatera pada bulan Mei 2022 yang tercatat sebesar 0,84% (mtm). Secara tahunan, inflasi Provinsi Lampung Mei 2022 tercatat sebesar 3,94% (yoy), lebih tinggi dibandingkan inflasi Nasional yang tercatat sebesar 3,55% (yoy), namun lebih rendah dibandingkan inflasi tahunan Sumatera yang tercatat sebesar 4,60% (yoy).

Dilihat dari sumbernya, dengan andil masing-masing sebesar 0,09%; 0,08%; 0,04%; 0,04%; dan 0,04%. Kenaikan harga Bawang Merah dan Cabai Rawit disebabkan oleh permintaan pasca HBKN Idul Fitri 1443 H bulan Mei 2022 yang tetap tinggi untuk sebagian besar wilayah, termasuk Provinsi Lampung, di tengah terbatasnya produksi dari provinsi produsen, yaitu Jawa Tengah dan Jawa Barat.

Selanjutnya, kenaikan harga Telur Ayam Ras disebabkan oleh berlanjutnya perbaikan permintaan setelah terjadi deflasi 4,58% (yoy) untuk komoditas Telur Ayam Ras pada tahun 2021, di tengah adanya kenaikan harga pakan ayam petelur dan terbatasnya provinsi produsen telur ayam di skala nasional.

Sementara itu, kenaikan harga bahan pangan strategis tersebut juga turut mendorong kenaikan harga Nasi dengan Lauk seiring dengan permintaannya yang masih terakselerasi.

Lebih lanjut, berlanjutnya akselerasi mobilitas masyarakat secara signifikan di skala nasional pasca momen HBKN Idul Fitri 1443 H turut mendorong kenaikan Tarif Angkutan Udara di tengah adanya implementasi fuel surcharge sebesar 10% sejak April 2022 seiring dengan meningkatnya harga Avtur.

Pasca momen HBKN Idul Fitri 1443 H

Meski demikian, dengan andil masing-masing sebesar – 0,04%; -0,02%; -0,01%; -0,01%; dan -0,01%. Penurunan harga Daging Ayam Ras pada Mei 2022 disebabkan oleh pemulihan pasokan di pasar tradisional pasca momen HBKN Idul Fitri 1443 H yang relatif lebih cepat jika dibandingkan komoditas strategis lainnya.

Harga minyak goreng terpantau juga mengalami penurunan seiring dengan harga CPO internasional yang terkoreksi 54,93 USD/metric ton pada Mei 2022 jika dibandingkan bulan sebelumnya.

Selain itu, penguatan sinergi pemerintah daerah dalam rangka menjaga ketersediaan pasokan Minyak Goreng juga turut menahan kenaikan harga Minyak Goreng. Selanjutnya, penurunan harga Daging Sapi disebabkan oleh permintaan yang menurun pada Mei 2022 seiring dengan adanya kekhawatiran masyarakat untuk mengonsumsi daging sapi karena mewabahnya Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) di Jawa Timur dan Aceh.

Penurunan harga Ikan Layang/Ikan Benggol disebabkan oleh adanya peningkatan produksi seiring dengan kondisi cuaca yang lebih kondusif jika dibandingkan kondisi di triwulan I 2022. Lebih lanjut, penurunan harga Beras terpantau masih berlanjut pada Mei 2022 seiring dengan masih kuatnya produksi padi di Kota Metro pada bulan laporan.

Adanya penurunan harga

Penurunan NTP ini terjadi pada hampir seluruh subsektor, kecuali subsektor Hortikultura dan subsektor Perikanan tangkap. Turunnya NTP pada periode Mei 2022 didorong oleh adanya penurunan harga pada komoditas Kelapa Sawit, Padi, Jagung Manis, dan Daging Ayam Ras. Dengan demikian, NTP Mei 2022 tercatat terkontraksi 2,74% (mtm) menjadi 104,66 pada bulan Mei 2022.

Meski NTP Provinsi Lampung secara umum tercatat di atas 100, NTP subsektor Tanaman Pangan dan Perikanan Budidaya tercatat masih berada di bawah 100 yang masing-masing tercatat sebesar 94,20 dan 99,72.

Namun demikian, terdapat beberapa risiko yang perlu dimitigasi, antara lain: risiko ketidakpastian pasar keuangan global dengan adanya permasalahan ketegangan geopolitik Rusia dan Ukraina serta percepatan normalisasi kebijakan moneter Bank Sentral di dunia yang meningkatkan tekanan kepada Nilai Tukar Rupiah.

Peningkatan inflasi fundamental seiring dengan meningkatnya mobilitas, pembiayaan perbankan, serta ekspektasi pelaku usaha. penerapan fuel surcharge sebesar 10% untuk penerbangan kelas ekonomi seiring dengan kenaikan harga minyak mentah dunia. penurunan harga CPO Internasional yang berpotensi tertahan seiring dengan berlanjutnya pengetatan ekspor CPO dan turunannya di Indonesia pada triwulan II 2022.

Pengetatan Ekspor Gandum

Peningkatan harga aneka roti seiring dengan adanya larangan ekspor gandum untuk Rusia dan pengetatan ekspor gandum dari India.

Kenaikan harga kedelai dan jagung berpotensi meningkatkan biaya input untuk pakan hewan ternak. permasalahan struktural terkait produksi komoditas hortikultura seperti bawang merah dan aneka cabai.

Dalam rangka menjaga agar inflasi tetap pada level yang lebih rendah atau stabil dari komoditas strategis. Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) dan Satgas Pangan bekerja sama dan berkomitmen untuk terus memastikan keterjangkauan harga, melalui pemantauan harga komoditas strategis secara harian, yakni salah satunya melalui aplikasi Pusat Informasi Harga Pangan Strategis (https://hargapanganid/), untuk melihat perkembangan harga serta melakukan intervensi kebijakan yang diperlukan.

Kepada produsen, pedagang besar/utama dan pedagang tradisional agar tidak terdapat kendala dalam distribusi pasokan, khususnya untuk pasokan yang berasal dari luar Provinsi Lampung tersebut.

Di sisi lain, guna memenuhi ketersediaan pasokan, TPID Provinsi/Kabupaten/Kota perlu untuk terus mengoptimalkan dan meningkatkan koordinasi, salah satunya melalui Kerjasama Antar Daerah (KAD) khususnya untuk pemenuhan pasokan dan menghadapi adanya risiko kenaikan harga komoditas pangan strategis.

Melakukan Pendataan Neraca Pangan Secara Akurat

Langkah konkrit yang dapat dilakukan oleh TPID Provinsi/Kabupaten/Kota terkait KAD adalah melakukan pendataan neraca pangan secara akurat untuk mengetahui kondisi surplus defisit komoditas di wilayah masing-masing. Selain itu, implementasi Program Kartu Petani Berjaya (KPB) yang merupakan terobosan untuk mendukung upaya peningkatan produktivitas pertanian dan ketersediaan pasokan perlu terus ditingkatkan.

Melalui TPID dan Satgas Pangan dengan terus memastikan adanya kecukupan pasokan dan kelancaran akses distribusi bahan pokok di Provinsi Lampung di tengah pembatasan mobilitas akibat diberlakukannya PPKM di berbagai wilayah baik di Provinsi Lampung maupun di wilayah lainnya.

Selain stabilitas harga tetap terjaga, kelancaran distribusi juga dapat memudahkan distributor, produsen dan petani dalam memasarkan produknya serta mendapatkan harga yang wajar. Digitalisasi perlu dioptimalkan seperti pemanfaatan platform e-commerce atau marketplace lokal untuk menjaga kelancaran distribusi dan pemasaran; serta terus mendorong penggunaan transaksi nontunai.

melalui diseminasi informasi harga dan iklan layanan masyarakat untuk mengimbau masyarakat agar bijak berkonsumsi dan mengurangi asymmetric information untuk menjaga ekspektasi inflasi, terutama di tengah pemberlakuan PPKM di berbagai wilayah Indonesia.

Selain itu, masih terdapat tantangan bagi TPID kedepan yakni upaya penguatan daya beli masyarakat di tengah proses pemulihan ekonomi Nasional.

Oleh karena itu, TPID harus bersama-sama mendorong percepatan realisasi program perlindungan sosial dan perlunya melakukan identifikasi potensi sumber-sumber baru pertumbuhan ekonomi antara lain melalui optimalisasi Local Value Chain (LVC) sebagai strategi dalam mendorong percepatan pemulihan ekonomi di daerah, dan tidak terbatas pada sektor pertanian pangan, namun termasuk sektor lainnya yaitu pertambangan, perkebunan, dan industri.

Penguatan LVC tersebut diantaranya dengan membentuk klaster-klaster ekonomi baru atau eksosistem dimana korporasi dapat berperan sebagai aggregator dan off-taker.

Lebih jauh TPID juga dapat melakukan pemantauan indikator terkini ekonomi daerah (Early Warning System) yang akurat dan terkini untuk memantau denyut perekonomian perekonomian daerah.*

Penulis: RilisEditor: Ahmad ridho